A+ A A-

 

  • Kategori Induk: Rubrikasi
  • Kategori: NEWS
  • Ditulis oleh adminsurabayawedding
  • Dilihat: 112

Pakem dan Modifikasi Rias Jogja Paes Ageng

 

Zaman dulu, rias pengantin Jogja Paes Ageng hanya boleh digunakan oleh keluarga keraton tapi kemudian seiring dengan perkembangan zaman dan era keterbukaan, Jogja Paes Ageng juga bisa dipakai masyarakat awam.

Hanya saja dengan kebebasan yang demikian tak terbatas, pakem dasar tata rias dari Jogja Paes Ageng diabaikan tak sedikit para perias pengantin. Semestinya semua perias pengantin harus mempelajari atau mengetahui bagaimana pakem riasan sehingga tak salah kaprah.

”Modifikasi itu boleh saja. Modifikasi itu kan perubahan sebagai salah satu efek dari perkembangan zaman dan perubahan situasi, tapi tetap harus tahu dasarnya. Nanti akan kelihatan mana riasan modifikasi yang benar karena ada dasarnya dan mana yang tidak,” sorot Nuniek. 

Nuniek mengibaratkan merias itu seperti ilmu melukis. Setiap pelukis perlu belajar dasar-dasar melukis yang benar sehingga ketika nanti menemukan alirannya sendiri, lukisan itu tetap berjiwa karena berpijak pada dasar lukisan.  Seperti seorang Affandi dengan lukisannya yang mungkin terlihat seperti coretan-coretan belaka tetapi orang yang menyukai seni akan tahu bahwa lukisan itu berjiwa sehingga merasakan getarannya.

Kembali ke riasan Jogja Paes Ageng, menurut pakem dasarnya riasan Jogja Paes Ageng itu dasarnya dasarnya adalah dahi dan sanggul. Bagian mata, pipi, dan bibir, adalah hasil modifikasi. Pada bagian mata sebenarnya bukan berupa polesan make up mengingat zaman dahulu make up belum ada. Bagian wajah diberi bedak kemudian di sekitar area mata disisakan tanpa bedak dengan mengikuti bentuk mata sehingga tampaklah kulit asli dari pengantin tersebut. Nah, semakin gelap kulit sang pengantin, makin eksotiklah penampilan si pengantin. 

Pakem yang kedua adalah bagian dahi yang biasa dihitamkan. Bentuknya pun berbeda dengan pengantin Solo karena lebih runcing dan ramping. Bibir sang pengantin berwarna merah karena diolesi daun sirih.

”Memang kalau menuruti pakem lebih rumit tapi kemudian ketika kosmetika sudah ada maka terjadilah modifikasi itu dan tidak serumit zaman dulu,” tambah Nuniek. (sir)