A+ A A-

 

  • Kategori Induk: Rubrikasi
  • Kategori: NEWS
  • Ditulis oleh adminsurabayawedding
  • Dilihat: 105

Upacara Adat dalam Tradisi Pengantin Jawa

Zaman sekarang, calon pengantin perempuan memakai kain untuk membalut tubuh kemudian ditutup dengan rangkaian melati hidup. Kadang ada juga yang memakaikan rangkaian melati di kepala calon pengantin bahkan air siraman juga diberi bunga hidup. Dulu, air siraman tidak dicampuri bunga, tapi hanya air saja.

”Saya sendiri masih menggali berbagai sumber tentang apa alasan calon pengantin perempuan tidak boleh memakai bunga hidup di tubuhnya. Zaman sekarang cuma keluarga keraton saja yang masih berpedoman pada adat zaman dulu, tapi itupun tidak semua,” tegas Nuniek.

Bagaimana jika dalam perkembangannya, upacara adat itu kemudian banyak yang dibuat praktis atau dilakukan pemangkasan? Menurut Nuniek itu sebenarnya tidak ada masalah. Biasanya alasannya karena kepraktisan dan penghematan biaya mengingat seluruh rangkaian upacara adat itu memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Lagipula upacara adat itu sifatnya ngleluri budaya dan prosesinya adalah simbol-simbol dari nasihat dan doa dari sesepuh atau orangtua kepada anak-anaknya. Mengingat orang Jawa zaman dulu terbiasa dengan nasihat yang dirupakan simbol-simbol. 

Adapun rangkaian upacara adat pengantin Jawa secara garis besar adalah sebagai berikut:

1. Pasang tratag dan tarub

Tanda resmi bahwa pemilik rumah punya hajatan mantu. Tarub dibuat menjelang acara inti dengan ciri khas dominasi hiasan daun kelapa muda (janur), hiasan warna-warni, dan kadang disertai dengan ubarampe berupa nasi uduk (nasi gurih), nasi asahan, nasi golong, kolak ketan dan apem.

2. Kembar mayang

Dari bunga pohon jambe atau sering disebut Sekar Kalpataru Dewandaru, lambang kebahagiaan dan keselamatan. Jika acara inti temu pengantin selesai, kembar mayang dilabuh atau dibuang di perempatan jalan, sungai atau laut dengan maksud agar pengantin selalu ingat asal muasal hidup ini yaitu dari bapak dan ibu sebagai perantara Tuhan Yang Maha Kuasa. 

3. Siraman

Siraman dilakukan tetapi calon pengantin sebaiknya tanpa riasan wajah sama sekali.

4. Kerik Dahi

Perias mengerik bagian dahi dan seharusnya dalam suasana santai (tidak terburu-buru). Namun di kebanyakan masyarakat kita, biasanya keluarga meminta agar proses kerik dipercepat sehingga calon pengantin bisa ikut tumpengan dan orangtua menyuapkan potongan tumpeng.

5. Adol Dawet

Agar saat prosesi kerik tidak diburu-buru dan para tamu tidak bosan menunggu, kemudian disiasati dengan acara adol dawet yang dilakukan orangtua calon mempelai perempuan. Biasanya para tamu diberi semacam benda untuk ’membeli’ dawet pengganti uang (ada yang biasanya dibuat dari batu bata atau pecahan genteng rumah yang dibentuk seperti lempengen bundar). Ini simbol pengharapan agar saat acara resepsi banyak tamu yang datang. 

6. Pasang Bleketepe

Ayah calon mempelai wanita memasang bleketepe dari anyaman blarak. Itu simbol karena justru bleketepe itulah sama fungsinya seperti tenda karena zaman dulu tidak ada tenda.

7. Midodareni

Midodareni adalah malam sebelum akad nikah, yaitu malam melepas masa lajang bagi kedua calon pengantin di mana calon pengantin perempuan berdiam di rumah. Mestinya selama malam midodareni, calon pengantin tidak memakai perhiasan. Dalam acara ini ada acara nyantrik untuk memastikan calon pengantin laki-laki akan hadir dalam akad nikah dan sebagai bukti bahwa keluarga calon pengantin perempuan benar-benar siap melakukan prosesi pernikahan di hari berikutnya. Midodareni berasal dari kata widodareni (bidadari), lalu menjadi midodareni yang berarti membuat keadaan calon pengantin seperti bidadari. Dalam dunia pewayangan, kecantikan dan ketampanan calon pengantin diibaratkan seperti Dewi Kumaratih dan Dewa Kumajaya. (sir)